Welcome!

Hanya sebuah tulisan sederhana. Tulisan ini ada bukan karena aku tapi karena kalian. Ini bukan kisah tentang aku tapi kisah tentang kalian. Aku menulis ini bukan untuk aku tapi untuk kalian. Ini bukan hanya tentang perasaan aku tapi tentang perasaan kalian....

Minggu, 31 Januari 2016

Ayah...




Ayah? Aku selalu bingung jika diminta mendiskripsikan tentang ayah. Bagaimana tidak semenjak aku lahir aku belum pernah menatap wajahnya. Sejak aku kecil, hanya ada kakek dan nenek yang merawat ku. Ibuku? Aku dekat dengan dia ketika aku beranjak dewasa.

Ayah? Ntah hidungnya mancung atau tidak, matanya sipit atau belo, pipinya tirus atau tembem, bentuk bibirnya seperti apa juga aku tak tahu. Kulitnya berwarna putih, coklat atau hitam aku tak pernah lihat, perwatakan wajahnya tegas atau lembut aku juga tak pernah merasakannya.

Ayah? Sejak kecil yang sosoknya sudah tergantikan oleh kakekku. Di saat teman-temanku diantar jemput oleh ayahnya, ketika mereka bercerita tentang ayah mereka, ketika mereka membanggakan ayahnya masing-masing hanya ada satu pertanyaan di otakku."ayah, seperti apa wajah ayah?"

Ayah? Yang sempat ada kenangan satu-satunya berupa foto tapi hanyut terbawa banjir.

Ayah? Yang katanya bandel miripku. Mungkin yang aku tau sifat ayah ada di dalam diriku hanya itu. Tapi aku yakin masih ada sifat ayah yang lain ada di dalam darah dagingnya.

Ayah? Yang hanya aku tahu ceritanya dari ibuku bahwa dia sesosok pria yang hebat pekerja keras, dan bermental baja. Meski aku hanya bisa mendoakannya sekarang tapi aku masih berharap dapat berjumpa dengan dia meski sekali. Agar aku bisa mendiskripsikan seperti apa ayahku, seperti apa sosok hebat yang dibilang ibuku.

Ayah? Yang meski aku tak pernah melihatnya dan merasakan kasih sayangnya namun tak sekalipun mengurangi rasa cintaku dan hormatku kepadanya.

Ayah? Aku harap suatu saat bisa berjumpa denganmu meski hanya sebentar.

Ayah? Yang kadang aku berharap dapat memutar waktu agar aku bisa merasakan kasih sayangmu meski sesaat.

Ayah? Aku mencintaimu. Tak perduli seperti apa sosokmu. Engkau tetap pahlawan untukku, untuk ibu, dan untuk keluarga kita.

Ayah? Berbahagialah walau kita tak pernah berjumpa. Doakan anakmu ini agar bisa membahagiakan bidadari surga kita; ibu. Bantulah anakmu ini dalam mewujudkan semua harapan malaikat kita; ibu.

Ayah? Hampir semua teman-temanku memiliki sosoknya namun hanya aku yang tidak. Sedih memang, tapi aku tetap bersyukur karna aku memiliki kakek, nenek dan ibu yang tak kalah hebat dengan ayah.

Ayah? Aku harap suatu saat nanti aku bisa menjadi sesosok ayah yang hebat, pekerja keras dan bermental baja pula untuk anakku dan istriku.

Ayah? Yang sebutan seperti itu sebentar lagi akan aku miliki ketika aku meminang seorang perempuan dan mempunyai amanah Allah darinya.

Untuk semua teman-temanku yang masih memiliki sosok seorang ayah, syukuri, sayangi dan berterimakasihlah kepadanya. Sebab, di luar sana ada anak sepertiku yang tak sempat merasakan bahkan berjumpa dengan sosok yang disebut ayah. Ada sosok anak yang hanya bisa merasakan waktu kebersamaan dengan ayahnya sebentar saja. Tak sempat berterimakasih kepadanya. Tak sempat membuatnya bahagia, tak sempat mengucapakan maaf untuk kesalahan yang pernah anaknya perbuat.


Dan untuk seluruh ayah di dunia, tetaplah menjadi sosok yang pantas dibanggakan oleh anak-anakmu. Sebab, ayahlah yang menjadi panutan seorang anak kelak.

-28 Januari 2016-

0 komentar:

Posting Komentar

Minggu, 31 Januari 2016

Ayah...




Ayah? Aku selalu bingung jika diminta mendiskripsikan tentang ayah. Bagaimana tidak semenjak aku lahir aku belum pernah menatap wajahnya. Sejak aku kecil, hanya ada kakek dan nenek yang merawat ku. Ibuku? Aku dekat dengan dia ketika aku beranjak dewasa.

Ayah? Ntah hidungnya mancung atau tidak, matanya sipit atau belo, pipinya tirus atau tembem, bentuk bibirnya seperti apa juga aku tak tahu. Kulitnya berwarna putih, coklat atau hitam aku tak pernah lihat, perwatakan wajahnya tegas atau lembut aku juga tak pernah merasakannya.

Ayah? Sejak kecil yang sosoknya sudah tergantikan oleh kakekku. Di saat teman-temanku diantar jemput oleh ayahnya, ketika mereka bercerita tentang ayah mereka, ketika mereka membanggakan ayahnya masing-masing hanya ada satu pertanyaan di otakku."ayah, seperti apa wajah ayah?"

Ayah? Yang sempat ada kenangan satu-satunya berupa foto tapi hanyut terbawa banjir.

Ayah? Yang katanya bandel miripku. Mungkin yang aku tau sifat ayah ada di dalam diriku hanya itu. Tapi aku yakin masih ada sifat ayah yang lain ada di dalam darah dagingnya.

Ayah? Yang hanya aku tahu ceritanya dari ibuku bahwa dia sesosok pria yang hebat pekerja keras, dan bermental baja. Meski aku hanya bisa mendoakannya sekarang tapi aku masih berharap dapat berjumpa dengan dia meski sekali. Agar aku bisa mendiskripsikan seperti apa ayahku, seperti apa sosok hebat yang dibilang ibuku.

Ayah? Yang meski aku tak pernah melihatnya dan merasakan kasih sayangnya namun tak sekalipun mengurangi rasa cintaku dan hormatku kepadanya.

Ayah? Aku harap suatu saat bisa berjumpa denganmu meski hanya sebentar.

Ayah? Yang kadang aku berharap dapat memutar waktu agar aku bisa merasakan kasih sayangmu meski sesaat.

Ayah? Aku mencintaimu. Tak perduli seperti apa sosokmu. Engkau tetap pahlawan untukku, untuk ibu, dan untuk keluarga kita.

Ayah? Berbahagialah walau kita tak pernah berjumpa. Doakan anakmu ini agar bisa membahagiakan bidadari surga kita; ibu. Bantulah anakmu ini dalam mewujudkan semua harapan malaikat kita; ibu.

Ayah? Hampir semua teman-temanku memiliki sosoknya namun hanya aku yang tidak. Sedih memang, tapi aku tetap bersyukur karna aku memiliki kakek, nenek dan ibu yang tak kalah hebat dengan ayah.

Ayah? Aku harap suatu saat nanti aku bisa menjadi sesosok ayah yang hebat, pekerja keras dan bermental baja pula untuk anakku dan istriku.

Ayah? Yang sebutan seperti itu sebentar lagi akan aku miliki ketika aku meminang seorang perempuan dan mempunyai amanah Allah darinya.

Untuk semua teman-temanku yang masih memiliki sosok seorang ayah, syukuri, sayangi dan berterimakasihlah kepadanya. Sebab, di luar sana ada anak sepertiku yang tak sempat merasakan bahkan berjumpa dengan sosok yang disebut ayah. Ada sosok anak yang hanya bisa merasakan waktu kebersamaan dengan ayahnya sebentar saja. Tak sempat berterimakasih kepadanya. Tak sempat membuatnya bahagia, tak sempat mengucapakan maaf untuk kesalahan yang pernah anaknya perbuat.


Dan untuk seluruh ayah di dunia, tetaplah menjadi sosok yang pantas dibanggakan oleh anak-anakmu. Sebab, ayahlah yang menjadi panutan seorang anak kelak.

-28 Januari 2016-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates