Welcome!

Hanya sebuah tulisan sederhana. Tulisan ini ada bukan karena aku tapi karena kalian. Ini bukan kisah tentang aku tapi kisah tentang kalian. Aku menulis ini bukan untuk aku tapi untuk kalian. Ini bukan hanya tentang perasaan aku tapi tentang perasaan kalian....

Minggu, 15 Maret 2015

Surat untuk para lelaki

*Tulisan ini lahir untuk mewakili perasaan para kaum hawa yang tak berani berbicara*

Untuk kalian para cucu adam...

Bagaimana rasanya begitu dicintai oleh para cucu hawa? Ribet, risih, nyebelin bukan? Ya, memang begitulah sifat kami. Maafkan kami selalu merepotkan kalian, menyusahkan kalian dengan sifat manja dan lemah kami. Maafkan kami yang selalu membuat kalian marah, kesal, dongkol dengan sisi sensitif kami. Maafkan kami yang selalu bawel, cerewet bahkan melebihi ibu kalian dengan ke khawatiran kami yang begitu besar. Maafkan kami yang begitu cengeng dengan airmata kami yang begitu dangkal. Dan maafkan kami yang mungkin telah menyayangi kalian dengan cara yang salah...

Tapi tahukah kalian para cucu adam? Kami selalu merepotkan dan menyusahkan kalian itu karna memang kalian diciptakan oleh Tuhan untuk selalu melindungi kami, menjaga kami. Kalian diciptakan dengan kekuatan yang lebih daripada kami para cucu hawa. Jika kami memiliki kekuatan sama seperti kalian lalu untuk apa Tuhan menciptakan kalian? Jika kami mampu melakukan semuanya serba sendiri mungkin kalian tak kami idam-idamkan. Ya, sudah menjadi takdir bahwasannya kalian memiliki posisi yang jauh lebih tinggi daripada kami. Maka dari itu tolong pahami sifat lemah dan manja kami yang selalu merepotkan dan menyusahkan kalian.

Kami diciptakan dengan sisi sensitif yang lebih peka dibandingkan dengan kalian itu sudah menjadi takdir. Kami bisa apa jika memang Tuhan menciptakan kami seperti itu? Tak heran bila kami lebih menggunakan perasaan daripada logika, karna memang kami diciptakan untuk melengkapi kalian. Apa jadinya bila kita sama sama saling menggunakan logika masing-masing? Maafkan sifat cemburu kami yang sangat sulit untuk kami kendalikan. Maafkan sifat cemburu kami yang selalu menimbulkan bibit bibit pertengkaran. Tapi itu semata-mata karna kami begitu takut untuk kehilangan pelindung kami. Percayalah, bukan karna tidak adanya rasa percaya namun memang seperti inilah sisi kami yang sebenarnya. Mengapa sewaktu belum jadian kami tak begitu menunjukkannya? Karna pada saat itu kami sadar diri bahwa kami belum menjadi siapa-siapa kalian dan ketika kami menjadi siapa-siapa kalian, kami berubah menjadi seperti moster yang selalu membuat kalian kesal, marah, dongkol itu karna kami tau untuk bersama kalian tak semudah membalikkan telapak tangan. Kami para cucu hawa jika sudah memiliki sesuatu akan sangat menjaga sesuatu itu layaknya anak perempuan kecil yang tak ingin kehilangan barang kesayangannya. Dapatkah kalian mengerti itu? Dan mengapa kami begitu suka sekali membesar-besarkan masalah kecil? Karna memang kami begitu egois tak ingin ada masalah sedikitpun diantara kita. Jangan salahkan kami yang suka membesar-besarkan masalah tapi seharusnya kalian sadar karna kalian masalah-masalah kecil itu bisa ada. Ngga akan ada masalah sekecil apapun bila tak ada yang mencari masalahnya bukan? Pahamilah kami seperti kami selalu mencoba memahami kalian.

Ntah apa yang Tuhan ciptakan didiri kami sehingga menjadi sosok yang begitu ketakutan dan khawatiran. Menjadi sosok yang begitu bawel dan cerewet bahkan melebihi ibu kalian. Kami begitu takut bila kalian tak ada kabar layaknya anak kecil yang kehilangan barang kesayangannya. Kami begitu ceweret bila kalian belum makan, pulang malem, terlalu sering bermain di luar rumah seperti sosok ibu yang mengatur anak lelaki kecil. Sadarkah kalian jika kami berusaha memberikan perhatian begitu besar seperti ibu yang memberikan perhatian kepada anaknya? Mengapa kami seperti itu? Karna kami sangat berharap bahwa kami adalah pengganti ibu kalian yang siap melayani ketika kalian beranjak menjadi sesosok lelaki dewasa. Ya, begitu tinggi harapan kami. Terlihat lebay bukan? Tapi kelebayan kami adalah bukti ketulusan hati kami. Bagaimana tega seorang perempuan yang menyayangi seorang lelaki tak memiliki sisi perduli sedikitpun? Itu mustahil... tolong jangan salah artikan perhatian kami sebagai sesuatu yang membuat kalian risih tapi artikanlah perhatian kami seperti perhatian ibu kalian...

Kami memang manusia yang sangat mudah menangis. Ntah mengapa Tuhan begitu dangkal menciptakan airmata kami. Sedikit saja kalian membuat kami tak enak langsung lah keluar airmata itu. Ya, begitulah Tuhan menciptakan kami dengan sisi kelembutan yang begitu tinggi. Kelembutan yang Tuhan ciptakan untuk menenangkan kalian disaat emosi merasuki hati kalian. Kelembutan yang Tuhan hadiahkan untuk menyayangi para keturunan kalian kelak. Coba kalian bayangkan bila kami tak memiliki sifat kelembutan dan sama seperti kalian apa jadinya hubungan para lawan jenis? Tuhan begitu adil menciptakan sifat diantara kita untuk saling melengkapi.

Dan... maafkan kami bila cara menyayangi ini begitu salah. Karna yang kami tau apa yang kami rasakan itu yang kami lakukan.  Maafkan kami yang selalu menjadi penganggu kesenangan kalian, pengrusuh keinginan itu semata-mata agar kalian tak salah jalan, itu hanya kami ingin sesuatu yang terbaik untuk kalian. Coba kalian pikir untuk apa kami repot-repot ngurusin hidup orang lain padahal belom tentu kalian menjadi jodoh kami? Itu semua kami lakukan karna memang pada saat itu perasaan sayang kami hanya untuk kalian. Tak perduli dengan siapa nanti kalian menghabiskan sisa umur kalian yang kami perdulikan hanya sesuatu yang terbaik untuk kalian. Mungkin seperti itu gambaran ketulusan kami sebagai para cucu kaum hawa. Sadarilah itu semua sebelum kalian benar-benar kehilangan sosok yang mampu mengerti kalian dengan sepenuh hati..


 Dari kami para cucu kaum hawa...

Senin, 09 Maret 2015

Penzina yang menjadi istri seorang lelaki sholeh.

Hidup ku selalu dihiasi oleh dosa-dosa yang sengaja maupun tidak aku lakukan. Keluar masuk pintu diskotik. Makan dan minum yang tak seharusnya aku masukkan ke dalam tubuh. Mengomsumsi barang-barang yang menurut agama ku haram. Pergi dengan laki-laki mana saja. Menggunakan pakaian yang selalu memamerkan bentuk tubuh ku dan membiarkan tangan-tangan jahil menyentuhnya. Ya, begitulah kehidupan ku di masa lalu. Tak pernah menyentuh al-quran. Tak pernah membeli mukena. Tak pernah sekalipun aku beramal. Segala kegiatan ku yang aku kerjakan hanyalah kesenangan dunawi sesaat. Tak pernah terbesit di otak ku mengenai agama.

Begitu lama aku hidup dalam kemaksiatan, hidup dalam perintah syaitan, tak pernah sedikit pun aku melakukan ajaran agamaku: shalat, mengaji, berjilbab, dan beramal shaleh. Hingga akhirnya seseorang yang entah siapa mengetuk hatiku. Melihat dia melakukan gerakan shalat bagaikan melihat perilaku ku yang selalu berbuat maksiat. Mendengar dia mengaji seakan membuatku teringat kata-kata kotor apa saja yang telah aku katakan. Melihat pakaiannya yang selalu terbalut baju koko, bersarung serta berpeci membuatku sadar bahwa selama ini aku selalu telanjang. Dan melihat dia selalu beramal shaleh membuatku flashback apa selama ini aku telah melakukan satu kebaikan walau hanya sekali. Ya, itulah yang aku rasakan ketika pertama kali berjumpa dengannya. Tak pernah seorang pun yang mampu membuat hati ku terketuk kecuali ia.

Hingga akhirnya aku berpikir ‘dapatkah aku menikah dengannya?’. Ah sungguh jika orang lain dapat membaca pikiran ku mungkin orang itu akan memaki-maki ku, menertawakan ku, mengatakan aku gila sambil berkata ‘seorang penzina seperti kamu mengharapkan laki-laki sesholeh dia? siapa kamu siapa dia? bagaikan menantikan hujan uang didunia ini HAHAHAHAHA!’. Aku memang gila, sudah tak bisa berpikir dengan sehat lagi semenjak bertemu dengan ia. Aku jadi memikirkan tentang agama bahkan berpikir tentang pernikahan padahal sebelumnya aku tak pernah repot-repot memikirkan soal itu.

Awalnya ku pikir ini hanya perasaan kagum sesaat dan akhirnya aku akan melupakannya seperti dengan yang lainnya. Tapi ternyata tidak, semenjak aku bertemu dengan ia, aku selalu berharap bisa mengikuti setiap gerakan shalat dia, mengamini setiap doanya, mencium tangannya, membaca perkataan Allah bersama dengannya, dan melakukan banyak kebaikan berdua dengannya. Aku pun berusaha untuk menggodanya, aku tunggui ia selalu shalat dan mengaji tapi apa respon ia? Ia langsung menjauh, jangankan mendekat tersenyumpun tidak. Aku coba selalu memberikan senyuman terbaikku tapi apa balasannya? Hanya muka yang selalu berpaling. Sehina itukah diriku? Sekotor itu kah hatiku dihati ia? Sungguh ini menyiksaku...

Pada suatu hari aku mengutarakan perasaanku kepada temanku dan respon yang dia berikan sama dengan apa yang aku pikiran, dia bilang ‘bangun woy tidur mulu’. Jujur aku ingin sekali melupakannya bagaimana tidak semenjak hari itu semua kegiatan kemaksiatan yang biasa aku lakukan mulai berkurang. Aku mulai lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Mulai membeli sebuah mukena walau entah kapan aku akan menggunakan, membuka-buka al-quran walau aku tak tau bagaimana cara membacanya.

Hingga suatu hari aku membaca tulisan di sebuah blog. Diblog itu tertera ‘bila ini mendapatkan pasangan hidup yang shaleh hal pertama yang dilakukan adalah memperbaiki diri, memantaskan diri tak perduli sehina apapun diri seorang manusia Allah akan mengampuninya bila manusia itu benar-benar melakukan taubatan nasuha dengan shalat taubah’. Setelah membaca itu hatiku semakin terketuk bahwa ternyata harapanku untuk menikah dengan laki-laki itu masih ada. Sejak itu aku mulai berpikir untuk memperbaiki diri, memantaskan diri, mengejar cinta-Nya agar aku bisa mendapatkan cinta ia. Tapi bagaimana aku melakukan shalat taubah bila shalat saja aku tak pernah? Apa yang harus aku baca di dalam shalat?. Akhirnya suatu hari, aku tekadkan untuk pergi belajar mengaji. Aku belajar mengaji mulai dari iqra. Bayangkan diusia ku yang sudah tua ini aku baru memulai belajar iqra dengan anak-anak kecil. Cacian makian, serta ledekan seakan menjadi santapan ku setiap pergi mengaji. ‘Seorang penzina belajar ilmu agama?’ tak heran manusia-manusia lain menertawakanku, meledek ku habis-habisan.

Setelah aku sedikit bisa mengaji aku pun mulai belajar untuk shalat walau pertama kali rasanya sulit sekali. Mengerjakannya sehari 5 waktu. Bayangkan satu waktu pun tidak pernah aku lakukan ini lagi lima waktu sungguh amat sangat berat bagiku. Aku pun mulai membeli baju-baju yang tertutup dan mulai mengenakan jilbab. Menghindari barang-barang yang selama ini aku santap walau jujur itu sungguuuuh amad sulit dan berat bagiku. Tapi Allah ternyata menguatkan tekadku, mempertebal imanku, menjaga niat baikku. Dan pada akhirnya aku terbiasa dengan cara hidupku yang ‘baru’.

Bertahun-tahun pun berlalu aku bukanlah aku yang dulu, masa lalu yang kelam telah aku kubur dalam-dalam dan sewaktu-waktu aku liat sebagai koreksi untuk diri ku. Aku bukanlah seorang wanita malam lagi aku sekarang adalah guru ngaji diwilayah daerah rumahku, walau awalnya tetangga ku menilai negatif tapi Alhamdulillah seiring dengan pertolongan Allah mereka semua sekarang menganggap ku baik walau dosa yang telah aku lakukan selangit.

Selepas melakukan shalat taubah yang rutin aku lakukan setiap malem dan shalat-shalat sunah lainnya, tiba-tiba aku teringat sosok laki-laki itu. Ya, laki-laki yang telah mengubah ku menjadi seperti sekarang. Memang semenjak aku berusaha untuk memperbaiki diri, bertaubah dijalan Allah, aku tak begitu terlalu memikirkan ia tak seperti ketika aku masih selalu berbuat maksiat. Ya Allah apa ia malaikat yang Engkau kirim untuk menyadarkan aku?. Ingin rasanya aku berjumpa dengannya, mengucapkan terimakasih karena Allah telah menurunkan hidayahnya yang Allah titipkan lewat ia.

Suatu saat ketika aku mantapkan untuk bertemu dan menyapanya pintu rumah ku terketuk dan aku heran melihat sosok ia di depan rumah ku berserta keluarganya. Jujur, aku tak tau saat itu apa yang harus aku lakukan. Aku mempersilahkan ia dan keluarganya masuk dan aku bertanya maksud kedatangnya mereka apa. Dan kamu tau sahabat? Ternyata ia dan keluarganya datang untuk melamarku, meminang diriku yang hina ini menjadi istri dari seorang laki-laki sholeh. Subhanallah... aku hanya bisa berdiam diri dan terus memuji nama Allah di hatiku. Orang yang selama ini aku dambakan, aku kagumi, aku tunggu dengan sendirinya datang sendiri ke diriku tanpa aku harus berbuat apaapa. Sungguh sungguh Segala Puji bagi Allah, Maha Suci Allah, Maha Besar Allah. Allah menepati janjinya kepadaku. Aku seorang Penzina dengan dosa yang begitu banyaaaak mendapatkan seorang laki-laki sholeh.

Ketika aku dan ia resmi menjadi suami istri aku beranikan bertanya tentang hal apa yang membuat ia menikahi wanita sehina diriku ini dan ia menjawab “aku menikahimu karena Allah, karena Allah yang telah mendatangkan rasa ini, karena Allah yang sudah memberikan hidayah kepadamu, sekelam apapun masa lalu aku akan ikhlas menerimanya, sebagaimana Nabi Muhammad yang menikahi Siti Khadijah dan menyerahkan keperjakannya kepada seorang janda’. Sungguh aku hanya bisa menangis bahagia mendengarnya, sungguh aku hanya bisa mengucap syukur yang tiada henti, karena Allah begitu menyayangiku meski aku telah berkhianat kepadaNya. Dan ternyata pertanyaan ku dahulu terjawab sudah memang ia malaikat yang sengaja dikirim Allah untukku dan keluargaku kelak.

Sahabat sadarilah, sehina apapun diri kita, sekotor apapun tubuh ini, sebanyak apapun dosa yang telah kita kerjakan bila kita bener-bener bertaubah kepada Allah, ikhlas karena Allah, dan selalu berjuang di jalan Allah, insyaAllah semua keburukan kita bukan penghalang untuk kita tidak bisa mendapatkan surgaNya. Hidup dengan penuh dosa bukan salah kita memang sudah sewajarnya kita ini tempat salah dan dosa namun mati masih penuh dengan dosa itu adalah kesalahan terbesar kita. Sama seperti ungkapan ‘terlahir miskin bukan salah kita tapi mati dengan keadaan miskin itu baru salah kita’. Marilah sahabat mulai dari sekarang mari kita semakin memperbaiki diri, memantaskan diri, serta semakin mengejar cintaNya.


Sekian kisah singkat cerita pendek dari saya, kurang dan lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Senin, 02 Maret 2015

Ya Allah, siapa jodohku?

Ringkasan dari novel “Ya Allah, siapa jodohku?” karya Ahmad Rifa’i Rif’an.

Untuk saat ini masalah pasangan hidup adalah termasuk salah satu masalah yang banyak dibahas oleh anak muda. Banyak muda-mudi yang sedang asik dimabuk cinta berharap pasangan dia hari ini kelak akan menjadi pendamping dia hingga kakek nenek. Tapi tak banyak pula diantara mereka yang apabila sedang menghadapi suatu masalah segera memutuskan untuk berakhir. Lantas kemana harapan yang sudah mereka gembar-gemborkan itu? Inilah sedikit gambaran mengenai percintaan anak muda di jaman sekarang. Terlalu terbuai oleh rasa cinta sebatas manusia dengan manusia tapi bukan antara Allah – manusia – Allah – manusia. Mereka tak menggantungkan harapan mereka kepada Allah melainkan pada rasa jatuh cinta yang bersifat sementara. Tak heran dijaman sekarang banyak muda mudi yang hatinya cepat tersakiti karna pada dasarnya mereka yang membiarkan orang lain menyakitinya.

Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah berumur namun belum menemukan jodohnya? Mungkin saja kita sebagai manusia kurang berusaha. Memang benar rezeki, maut dan jodoh adalah hal yang sudah digariskan oleh Allah dan sudah menjadi takdirnya tapi bukan berarti kita sebagai manusia hanya berdiam diri tanpa berusaha. Mana ada yang namanya hujan duit? Mana ada datangnya jodoh kalau hanya berdiam diri di kamar dan tidak bergaul? Jemputlah jodohmu dengan usaha dan doa.

Kalau sudah usaha dan doa tapi ngga dapet juga gimana? Bertaubatlah kepada Allah mungkin saja ada kesalahan kita yang menghambat hal itu. Ingat cobaan di dunia ini ada tiga tingkatan yang pertama cobaan karna ujian dari Allah ingin meninggikan derajat kita, yang kedua teguran dari Allah karna kita sudah terlalu jauh meninggalkannya dan ketiga azab Allah karna kita melalaikan ujian dan teguran yang telah dia berikan. Maka dari itu perbanyaklah memohon ampunan dan segerakanlah bertobat.

Kenapa Allah ngasihnya bukan saat ini? Mungkin Allah sedang rindu denganmu, Allah sedang ingin kamu mendekat kepadaNya, memohon kepadaNya. Kita saja kalau sudah lama tak berjumpa dengan orang yang kita sayang merasakan rindu kan? Nah, Allah juga sayang sama kita, Dia rindu dengan airmata tulus kita, Dia rindu dengan rintihan kita. “Selalu percayalah bahwa seberapa pun besar rintangan yang hadir, sejauh apapun jarak yang ada, sehebat apa pun ujian yang datang, kalau memang jodoh, pasti akan ketemu juga. Jangan terlalu risau Allah lebih tahu kekasih seperti apa yang terbaik dan paling sesuai dengan kepribadianmu”

Gimana sih caranya agar kita tau bahwa dia adalah jodoh kita? Jujur, saya sendiri masih selalu mencari tau tentang perihal ini. Ahmad Rifa’i Rif’an mengatakan bahwa jodoh adalah seseorang yang membuatmu jatuh cinta tanpa satu alasan apapun. Yang kamu tahu adalah hadirnya kebahagiaanmu dan hadirmu kebahagiannya. Hadirnya telah membuatmu dekat dengan Tuhanmu. Sudahkah kamu mengetahui siapa orang itu? Ingat yang sulit itu bukan menemukan tapi sulit mengetahui.

Lalu bagaimana cara memilih jodoh yang baik? Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang hendak memilih kekasih untuk dinikahi adalah mempriotitaskan menikahi seseorang yang memahami agama. Bukan paras, bukan harta, bukan nasab, meskipun ketiga hal tersebut juga diperbolehkan untuk jadi pertimbangan, tetapi yang utama adalah akhlak dan agama seseorang. Sebagaimana disebut dalam hadist Abu Hurairah ra., Nabi saw., bersabda:

Wanita umumnya dinikahi karena empat hal; hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, kalian akan beruntung” (HR. Bukhari & Muslim).

Al- Khawarizmi penemu angka nol pernah bertutur kalimat yang indah, “Kalau wanita berakhlak baik dan berpikir positif maka ia adalah angka 1. Kalau ia juga cantik maka imbuhkan 0 jadi 10. Kalau ia juga punya harta, imbuhkan lagi 0, jadi 100. Kalau ia cerdas imbuhkan lagi 0 jadi 1000. Jika seorang wanita memiliki semuanya tapi tidak memiliki yang pertama maka ia hanya ‘000’. Tak bernilai sama sekali”. Kawan, jangan hanya mementingkan egomu. Anakmu kelak lebih berhak mendapat pendidikan dari seorang ibu yang terbaik bukan yang tercantik. Anakmu lebih berhak mendapat pengajaran dari ayah yang indah akhlaknya bukan yang sekedar berlimpah hartanya. Kekasih terbaikmu adalah ornag yang membuatmu makin bersemangat mendekat padaNya dan membuatmu makin takut kepadaNya.

Mengapa harus yang saleh? Karena kekasih yang saleh saat cinta ia akan memuliakanmu, saat marah ia tak akan menghinakanmu. Kekasih yang saleh akan memberi yang terbaik bagi kekasihnya. Dia mencintai karena Allah. Dia pun tak mudah mempermainkan orang yang sudah dicintainya karena Allah. Dia tidak akan melupakan tanggung jawabnya sebagai suami atau istri yang baik bagi pasangan hidupnya. Dia akan menjaga komitmennya. Jika dia lelaki, dia akan menjadi imam yang baik bagi keluarganya. Dia akan memimpin keluarganya dengan memberi teladan yang mulia. Sementara jika dia perempuan, dia akan memjadi ibu rumah tangga yang baik, patuh, dan membimbing keluarganya menuju cinta pada Allah.

Bagaimana cara mendapatkan kekasih yang saleh? Hanya ada satu cara yaitu mensalehkan diri. Tak perduli andai dosamu memenuhi langit dan bumi, sungguh ampunan Tuhan tiada batas. Bertobatlah dengan sungguh-sungguh lalu senantiasa berdoalah agar kau dipertemukan Tuhan dengan kekasih yang mulia. Sekelam apapun masa lalumu, sesuram apa pun akhlakmu dahulu, seburuk apapun sikapmu di masa silam, tetaplah memiliki harapan tinggi pada kekasih yang hendak jadi pendampingmu nanti. Jangan rendahkan targetmu. Karena ampunan Tuhan tiada batas. Bila dipikirkan memang tak mudah mensalehkan diri tapi bila dikerjakan dengan hati yang tulus, ikhlas dan ridha karena Allah insya Allah semua akan ada jalannya. Ingatlah bahwa janji Allah selalu benar dan rencana Allah adalah rencana yang terbaik. “Ketika kita mengharap dipertemukan dengan jodoh yang mulia, berusahalah mulai sekarang untuk memuliakan diri. Karena inilah janji Allah: orang baik akan dipertemukan dengan orang baik. Muhammad-kan dirimu, agar Allah meng-Khadijahkan jodohmu. Fathimahkan dirimu, agar Allah meng-Alikan kekasihmu

Jangan pernah memaksa Tuhanmu untuk menjodohkan kamu dengan yang menjadi pilihan hatimu tapi berdoalah “Ya Allah jika dia adalah kekasih terbaik yang Engkau pilihkan untuk hamba yang menurutMu baik bagi agamaku, bagi duniaku, bagi akhiratku serta Engkau ridhai menjadi miliku. Maka persatukanlah kami dalam ikatan yang suci yaitu pernikahan. Jagalah selalu hati kami dan pandangan kami hingga saat itu tiba. Jika dia bukan yang terbaik bantulah aku mengikhlaskan hal-hal yang sudah menjadi kententuanMu”

Terkadang Allah memang tak mengirim jodoh yang kita harapkan. Kadang kekasih yang kita idamkan begini, tapi yang malah kita dapat kekasih yang begitu. Tapi yakinlah, bahwa Allah pasti akan mengirim jodoh yang kita butuhkan. Jadi bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan hanya memuaskan ego, sementara kebutuhan lebih cenderung memenuhi apa yang dibutuhkan oleh hidup kita. Keinginan hanya membuat kita puas dan bahagia sejenak. Sementara tergapainya kebutuhan, lebih menjanjikan kebahagiaan kita di masa depan. Kita tau apa yang kita inginkan, tapi Allah lebih tahu apa yang kita butuh.

Jodoh itu bagaikan sepasang sepatu. Walau tak sama persis namun serasi. Saat berjalan tak pernah persis berdampingan tapi tujuannya sama. Walau tak pernah bisa ganti posisi namun saling melengkapi. Selalu sederajad tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Bila yang satu hilang maka yang lain tak punya arti.


Sumber: Ahmad Rifa’i Rif’an buku “Ya Allah, siapa jodohku?”

Minggu, 15 Maret 2015

Surat untuk para lelaki

*Tulisan ini lahir untuk mewakili perasaan para kaum hawa yang tak berani berbicara*

Untuk kalian para cucu adam...

Bagaimana rasanya begitu dicintai oleh para cucu hawa? Ribet, risih, nyebelin bukan? Ya, memang begitulah sifat kami. Maafkan kami selalu merepotkan kalian, menyusahkan kalian dengan sifat manja dan lemah kami. Maafkan kami yang selalu membuat kalian marah, kesal, dongkol dengan sisi sensitif kami. Maafkan kami yang selalu bawel, cerewet bahkan melebihi ibu kalian dengan ke khawatiran kami yang begitu besar. Maafkan kami yang begitu cengeng dengan airmata kami yang begitu dangkal. Dan maafkan kami yang mungkin telah menyayangi kalian dengan cara yang salah...

Tapi tahukah kalian para cucu adam? Kami selalu merepotkan dan menyusahkan kalian itu karna memang kalian diciptakan oleh Tuhan untuk selalu melindungi kami, menjaga kami. Kalian diciptakan dengan kekuatan yang lebih daripada kami para cucu hawa. Jika kami memiliki kekuatan sama seperti kalian lalu untuk apa Tuhan menciptakan kalian? Jika kami mampu melakukan semuanya serba sendiri mungkin kalian tak kami idam-idamkan. Ya, sudah menjadi takdir bahwasannya kalian memiliki posisi yang jauh lebih tinggi daripada kami. Maka dari itu tolong pahami sifat lemah dan manja kami yang selalu merepotkan dan menyusahkan kalian.

Kami diciptakan dengan sisi sensitif yang lebih peka dibandingkan dengan kalian itu sudah menjadi takdir. Kami bisa apa jika memang Tuhan menciptakan kami seperti itu? Tak heran bila kami lebih menggunakan perasaan daripada logika, karna memang kami diciptakan untuk melengkapi kalian. Apa jadinya bila kita sama sama saling menggunakan logika masing-masing? Maafkan sifat cemburu kami yang sangat sulit untuk kami kendalikan. Maafkan sifat cemburu kami yang selalu menimbulkan bibit bibit pertengkaran. Tapi itu semata-mata karna kami begitu takut untuk kehilangan pelindung kami. Percayalah, bukan karna tidak adanya rasa percaya namun memang seperti inilah sisi kami yang sebenarnya. Mengapa sewaktu belum jadian kami tak begitu menunjukkannya? Karna pada saat itu kami sadar diri bahwa kami belum menjadi siapa-siapa kalian dan ketika kami menjadi siapa-siapa kalian, kami berubah menjadi seperti moster yang selalu membuat kalian kesal, marah, dongkol itu karna kami tau untuk bersama kalian tak semudah membalikkan telapak tangan. Kami para cucu hawa jika sudah memiliki sesuatu akan sangat menjaga sesuatu itu layaknya anak perempuan kecil yang tak ingin kehilangan barang kesayangannya. Dapatkah kalian mengerti itu? Dan mengapa kami begitu suka sekali membesar-besarkan masalah kecil? Karna memang kami begitu egois tak ingin ada masalah sedikitpun diantara kita. Jangan salahkan kami yang suka membesar-besarkan masalah tapi seharusnya kalian sadar karna kalian masalah-masalah kecil itu bisa ada. Ngga akan ada masalah sekecil apapun bila tak ada yang mencari masalahnya bukan? Pahamilah kami seperti kami selalu mencoba memahami kalian.

Ntah apa yang Tuhan ciptakan didiri kami sehingga menjadi sosok yang begitu ketakutan dan khawatiran. Menjadi sosok yang begitu bawel dan cerewet bahkan melebihi ibu kalian. Kami begitu takut bila kalian tak ada kabar layaknya anak kecil yang kehilangan barang kesayangannya. Kami begitu ceweret bila kalian belum makan, pulang malem, terlalu sering bermain di luar rumah seperti sosok ibu yang mengatur anak lelaki kecil. Sadarkah kalian jika kami berusaha memberikan perhatian begitu besar seperti ibu yang memberikan perhatian kepada anaknya? Mengapa kami seperti itu? Karna kami sangat berharap bahwa kami adalah pengganti ibu kalian yang siap melayani ketika kalian beranjak menjadi sesosok lelaki dewasa. Ya, begitu tinggi harapan kami. Terlihat lebay bukan? Tapi kelebayan kami adalah bukti ketulusan hati kami. Bagaimana tega seorang perempuan yang menyayangi seorang lelaki tak memiliki sisi perduli sedikitpun? Itu mustahil... tolong jangan salah artikan perhatian kami sebagai sesuatu yang membuat kalian risih tapi artikanlah perhatian kami seperti perhatian ibu kalian...

Kami memang manusia yang sangat mudah menangis. Ntah mengapa Tuhan begitu dangkal menciptakan airmata kami. Sedikit saja kalian membuat kami tak enak langsung lah keluar airmata itu. Ya, begitulah Tuhan menciptakan kami dengan sisi kelembutan yang begitu tinggi. Kelembutan yang Tuhan ciptakan untuk menenangkan kalian disaat emosi merasuki hati kalian. Kelembutan yang Tuhan hadiahkan untuk menyayangi para keturunan kalian kelak. Coba kalian bayangkan bila kami tak memiliki sifat kelembutan dan sama seperti kalian apa jadinya hubungan para lawan jenis? Tuhan begitu adil menciptakan sifat diantara kita untuk saling melengkapi.

Dan... maafkan kami bila cara menyayangi ini begitu salah. Karna yang kami tau apa yang kami rasakan itu yang kami lakukan.  Maafkan kami yang selalu menjadi penganggu kesenangan kalian, pengrusuh keinginan itu semata-mata agar kalian tak salah jalan, itu hanya kami ingin sesuatu yang terbaik untuk kalian. Coba kalian pikir untuk apa kami repot-repot ngurusin hidup orang lain padahal belom tentu kalian menjadi jodoh kami? Itu semua kami lakukan karna memang pada saat itu perasaan sayang kami hanya untuk kalian. Tak perduli dengan siapa nanti kalian menghabiskan sisa umur kalian yang kami perdulikan hanya sesuatu yang terbaik untuk kalian. Mungkin seperti itu gambaran ketulusan kami sebagai para cucu kaum hawa. Sadarilah itu semua sebelum kalian benar-benar kehilangan sosok yang mampu mengerti kalian dengan sepenuh hati..


 Dari kami para cucu kaum hawa...

Senin, 09 Maret 2015

Penzina yang menjadi istri seorang lelaki sholeh.

Hidup ku selalu dihiasi oleh dosa-dosa yang sengaja maupun tidak aku lakukan. Keluar masuk pintu diskotik. Makan dan minum yang tak seharusnya aku masukkan ke dalam tubuh. Mengomsumsi barang-barang yang menurut agama ku haram. Pergi dengan laki-laki mana saja. Menggunakan pakaian yang selalu memamerkan bentuk tubuh ku dan membiarkan tangan-tangan jahil menyentuhnya. Ya, begitulah kehidupan ku di masa lalu. Tak pernah menyentuh al-quran. Tak pernah membeli mukena. Tak pernah sekalipun aku beramal. Segala kegiatan ku yang aku kerjakan hanyalah kesenangan dunawi sesaat. Tak pernah terbesit di otak ku mengenai agama.

Begitu lama aku hidup dalam kemaksiatan, hidup dalam perintah syaitan, tak pernah sedikit pun aku melakukan ajaran agamaku: shalat, mengaji, berjilbab, dan beramal shaleh. Hingga akhirnya seseorang yang entah siapa mengetuk hatiku. Melihat dia melakukan gerakan shalat bagaikan melihat perilaku ku yang selalu berbuat maksiat. Mendengar dia mengaji seakan membuatku teringat kata-kata kotor apa saja yang telah aku katakan. Melihat pakaiannya yang selalu terbalut baju koko, bersarung serta berpeci membuatku sadar bahwa selama ini aku selalu telanjang. Dan melihat dia selalu beramal shaleh membuatku flashback apa selama ini aku telah melakukan satu kebaikan walau hanya sekali. Ya, itulah yang aku rasakan ketika pertama kali berjumpa dengannya. Tak pernah seorang pun yang mampu membuat hati ku terketuk kecuali ia.

Hingga akhirnya aku berpikir ‘dapatkah aku menikah dengannya?’. Ah sungguh jika orang lain dapat membaca pikiran ku mungkin orang itu akan memaki-maki ku, menertawakan ku, mengatakan aku gila sambil berkata ‘seorang penzina seperti kamu mengharapkan laki-laki sesholeh dia? siapa kamu siapa dia? bagaikan menantikan hujan uang didunia ini HAHAHAHAHA!’. Aku memang gila, sudah tak bisa berpikir dengan sehat lagi semenjak bertemu dengan ia. Aku jadi memikirkan tentang agama bahkan berpikir tentang pernikahan padahal sebelumnya aku tak pernah repot-repot memikirkan soal itu.

Awalnya ku pikir ini hanya perasaan kagum sesaat dan akhirnya aku akan melupakannya seperti dengan yang lainnya. Tapi ternyata tidak, semenjak aku bertemu dengan ia, aku selalu berharap bisa mengikuti setiap gerakan shalat dia, mengamini setiap doanya, mencium tangannya, membaca perkataan Allah bersama dengannya, dan melakukan banyak kebaikan berdua dengannya. Aku pun berusaha untuk menggodanya, aku tunggui ia selalu shalat dan mengaji tapi apa respon ia? Ia langsung menjauh, jangankan mendekat tersenyumpun tidak. Aku coba selalu memberikan senyuman terbaikku tapi apa balasannya? Hanya muka yang selalu berpaling. Sehina itukah diriku? Sekotor itu kah hatiku dihati ia? Sungguh ini menyiksaku...

Pada suatu hari aku mengutarakan perasaanku kepada temanku dan respon yang dia berikan sama dengan apa yang aku pikiran, dia bilang ‘bangun woy tidur mulu’. Jujur aku ingin sekali melupakannya bagaimana tidak semenjak hari itu semua kegiatan kemaksiatan yang biasa aku lakukan mulai berkurang. Aku mulai lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Mulai membeli sebuah mukena walau entah kapan aku akan menggunakan, membuka-buka al-quran walau aku tak tau bagaimana cara membacanya.

Hingga suatu hari aku membaca tulisan di sebuah blog. Diblog itu tertera ‘bila ini mendapatkan pasangan hidup yang shaleh hal pertama yang dilakukan adalah memperbaiki diri, memantaskan diri tak perduli sehina apapun diri seorang manusia Allah akan mengampuninya bila manusia itu benar-benar melakukan taubatan nasuha dengan shalat taubah’. Setelah membaca itu hatiku semakin terketuk bahwa ternyata harapanku untuk menikah dengan laki-laki itu masih ada. Sejak itu aku mulai berpikir untuk memperbaiki diri, memantaskan diri, mengejar cinta-Nya agar aku bisa mendapatkan cinta ia. Tapi bagaimana aku melakukan shalat taubah bila shalat saja aku tak pernah? Apa yang harus aku baca di dalam shalat?. Akhirnya suatu hari, aku tekadkan untuk pergi belajar mengaji. Aku belajar mengaji mulai dari iqra. Bayangkan diusia ku yang sudah tua ini aku baru memulai belajar iqra dengan anak-anak kecil. Cacian makian, serta ledekan seakan menjadi santapan ku setiap pergi mengaji. ‘Seorang penzina belajar ilmu agama?’ tak heran manusia-manusia lain menertawakanku, meledek ku habis-habisan.

Setelah aku sedikit bisa mengaji aku pun mulai belajar untuk shalat walau pertama kali rasanya sulit sekali. Mengerjakannya sehari 5 waktu. Bayangkan satu waktu pun tidak pernah aku lakukan ini lagi lima waktu sungguh amat sangat berat bagiku. Aku pun mulai membeli baju-baju yang tertutup dan mulai mengenakan jilbab. Menghindari barang-barang yang selama ini aku santap walau jujur itu sungguuuuh amad sulit dan berat bagiku. Tapi Allah ternyata menguatkan tekadku, mempertebal imanku, menjaga niat baikku. Dan pada akhirnya aku terbiasa dengan cara hidupku yang ‘baru’.

Bertahun-tahun pun berlalu aku bukanlah aku yang dulu, masa lalu yang kelam telah aku kubur dalam-dalam dan sewaktu-waktu aku liat sebagai koreksi untuk diri ku. Aku bukanlah seorang wanita malam lagi aku sekarang adalah guru ngaji diwilayah daerah rumahku, walau awalnya tetangga ku menilai negatif tapi Alhamdulillah seiring dengan pertolongan Allah mereka semua sekarang menganggap ku baik walau dosa yang telah aku lakukan selangit.

Selepas melakukan shalat taubah yang rutin aku lakukan setiap malem dan shalat-shalat sunah lainnya, tiba-tiba aku teringat sosok laki-laki itu. Ya, laki-laki yang telah mengubah ku menjadi seperti sekarang. Memang semenjak aku berusaha untuk memperbaiki diri, bertaubah dijalan Allah, aku tak begitu terlalu memikirkan ia tak seperti ketika aku masih selalu berbuat maksiat. Ya Allah apa ia malaikat yang Engkau kirim untuk menyadarkan aku?. Ingin rasanya aku berjumpa dengannya, mengucapkan terimakasih karena Allah telah menurunkan hidayahnya yang Allah titipkan lewat ia.

Suatu saat ketika aku mantapkan untuk bertemu dan menyapanya pintu rumah ku terketuk dan aku heran melihat sosok ia di depan rumah ku berserta keluarganya. Jujur, aku tak tau saat itu apa yang harus aku lakukan. Aku mempersilahkan ia dan keluarganya masuk dan aku bertanya maksud kedatangnya mereka apa. Dan kamu tau sahabat? Ternyata ia dan keluarganya datang untuk melamarku, meminang diriku yang hina ini menjadi istri dari seorang laki-laki sholeh. Subhanallah... aku hanya bisa berdiam diri dan terus memuji nama Allah di hatiku. Orang yang selama ini aku dambakan, aku kagumi, aku tunggu dengan sendirinya datang sendiri ke diriku tanpa aku harus berbuat apaapa. Sungguh sungguh Segala Puji bagi Allah, Maha Suci Allah, Maha Besar Allah. Allah menepati janjinya kepadaku. Aku seorang Penzina dengan dosa yang begitu banyaaaak mendapatkan seorang laki-laki sholeh.

Ketika aku dan ia resmi menjadi suami istri aku beranikan bertanya tentang hal apa yang membuat ia menikahi wanita sehina diriku ini dan ia menjawab “aku menikahimu karena Allah, karena Allah yang telah mendatangkan rasa ini, karena Allah yang sudah memberikan hidayah kepadamu, sekelam apapun masa lalu aku akan ikhlas menerimanya, sebagaimana Nabi Muhammad yang menikahi Siti Khadijah dan menyerahkan keperjakannya kepada seorang janda’. Sungguh aku hanya bisa menangis bahagia mendengarnya, sungguh aku hanya bisa mengucap syukur yang tiada henti, karena Allah begitu menyayangiku meski aku telah berkhianat kepadaNya. Dan ternyata pertanyaan ku dahulu terjawab sudah memang ia malaikat yang sengaja dikirim Allah untukku dan keluargaku kelak.

Sahabat sadarilah, sehina apapun diri kita, sekotor apapun tubuh ini, sebanyak apapun dosa yang telah kita kerjakan bila kita bener-bener bertaubah kepada Allah, ikhlas karena Allah, dan selalu berjuang di jalan Allah, insyaAllah semua keburukan kita bukan penghalang untuk kita tidak bisa mendapatkan surgaNya. Hidup dengan penuh dosa bukan salah kita memang sudah sewajarnya kita ini tempat salah dan dosa namun mati masih penuh dengan dosa itu adalah kesalahan terbesar kita. Sama seperti ungkapan ‘terlahir miskin bukan salah kita tapi mati dengan keadaan miskin itu baru salah kita’. Marilah sahabat mulai dari sekarang mari kita semakin memperbaiki diri, memantaskan diri, serta semakin mengejar cintaNya.


Sekian kisah singkat cerita pendek dari saya, kurang dan lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Senin, 02 Maret 2015

Ya Allah, siapa jodohku?

Ringkasan dari novel “Ya Allah, siapa jodohku?” karya Ahmad Rifa’i Rif’an.

Untuk saat ini masalah pasangan hidup adalah termasuk salah satu masalah yang banyak dibahas oleh anak muda. Banyak muda-mudi yang sedang asik dimabuk cinta berharap pasangan dia hari ini kelak akan menjadi pendamping dia hingga kakek nenek. Tapi tak banyak pula diantara mereka yang apabila sedang menghadapi suatu masalah segera memutuskan untuk berakhir. Lantas kemana harapan yang sudah mereka gembar-gemborkan itu? Inilah sedikit gambaran mengenai percintaan anak muda di jaman sekarang. Terlalu terbuai oleh rasa cinta sebatas manusia dengan manusia tapi bukan antara Allah – manusia – Allah – manusia. Mereka tak menggantungkan harapan mereka kepada Allah melainkan pada rasa jatuh cinta yang bersifat sementara. Tak heran dijaman sekarang banyak muda mudi yang hatinya cepat tersakiti karna pada dasarnya mereka yang membiarkan orang lain menyakitinya.

Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah berumur namun belum menemukan jodohnya? Mungkin saja kita sebagai manusia kurang berusaha. Memang benar rezeki, maut dan jodoh adalah hal yang sudah digariskan oleh Allah dan sudah menjadi takdirnya tapi bukan berarti kita sebagai manusia hanya berdiam diri tanpa berusaha. Mana ada yang namanya hujan duit? Mana ada datangnya jodoh kalau hanya berdiam diri di kamar dan tidak bergaul? Jemputlah jodohmu dengan usaha dan doa.

Kalau sudah usaha dan doa tapi ngga dapet juga gimana? Bertaubatlah kepada Allah mungkin saja ada kesalahan kita yang menghambat hal itu. Ingat cobaan di dunia ini ada tiga tingkatan yang pertama cobaan karna ujian dari Allah ingin meninggikan derajat kita, yang kedua teguran dari Allah karna kita sudah terlalu jauh meninggalkannya dan ketiga azab Allah karna kita melalaikan ujian dan teguran yang telah dia berikan. Maka dari itu perbanyaklah memohon ampunan dan segerakanlah bertobat.

Kenapa Allah ngasihnya bukan saat ini? Mungkin Allah sedang rindu denganmu, Allah sedang ingin kamu mendekat kepadaNya, memohon kepadaNya. Kita saja kalau sudah lama tak berjumpa dengan orang yang kita sayang merasakan rindu kan? Nah, Allah juga sayang sama kita, Dia rindu dengan airmata tulus kita, Dia rindu dengan rintihan kita. “Selalu percayalah bahwa seberapa pun besar rintangan yang hadir, sejauh apapun jarak yang ada, sehebat apa pun ujian yang datang, kalau memang jodoh, pasti akan ketemu juga. Jangan terlalu risau Allah lebih tahu kekasih seperti apa yang terbaik dan paling sesuai dengan kepribadianmu”

Gimana sih caranya agar kita tau bahwa dia adalah jodoh kita? Jujur, saya sendiri masih selalu mencari tau tentang perihal ini. Ahmad Rifa’i Rif’an mengatakan bahwa jodoh adalah seseorang yang membuatmu jatuh cinta tanpa satu alasan apapun. Yang kamu tahu adalah hadirnya kebahagiaanmu dan hadirmu kebahagiannya. Hadirnya telah membuatmu dekat dengan Tuhanmu. Sudahkah kamu mengetahui siapa orang itu? Ingat yang sulit itu bukan menemukan tapi sulit mengetahui.

Lalu bagaimana cara memilih jodoh yang baik? Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang hendak memilih kekasih untuk dinikahi adalah mempriotitaskan menikahi seseorang yang memahami agama. Bukan paras, bukan harta, bukan nasab, meskipun ketiga hal tersebut juga diperbolehkan untuk jadi pertimbangan, tetapi yang utama adalah akhlak dan agama seseorang. Sebagaimana disebut dalam hadist Abu Hurairah ra., Nabi saw., bersabda:

Wanita umumnya dinikahi karena empat hal; hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, kalian akan beruntung” (HR. Bukhari & Muslim).

Al- Khawarizmi penemu angka nol pernah bertutur kalimat yang indah, “Kalau wanita berakhlak baik dan berpikir positif maka ia adalah angka 1. Kalau ia juga cantik maka imbuhkan 0 jadi 10. Kalau ia juga punya harta, imbuhkan lagi 0, jadi 100. Kalau ia cerdas imbuhkan lagi 0 jadi 1000. Jika seorang wanita memiliki semuanya tapi tidak memiliki yang pertama maka ia hanya ‘000’. Tak bernilai sama sekali”. Kawan, jangan hanya mementingkan egomu. Anakmu kelak lebih berhak mendapat pendidikan dari seorang ibu yang terbaik bukan yang tercantik. Anakmu lebih berhak mendapat pengajaran dari ayah yang indah akhlaknya bukan yang sekedar berlimpah hartanya. Kekasih terbaikmu adalah ornag yang membuatmu makin bersemangat mendekat padaNya dan membuatmu makin takut kepadaNya.

Mengapa harus yang saleh? Karena kekasih yang saleh saat cinta ia akan memuliakanmu, saat marah ia tak akan menghinakanmu. Kekasih yang saleh akan memberi yang terbaik bagi kekasihnya. Dia mencintai karena Allah. Dia pun tak mudah mempermainkan orang yang sudah dicintainya karena Allah. Dia tidak akan melupakan tanggung jawabnya sebagai suami atau istri yang baik bagi pasangan hidupnya. Dia akan menjaga komitmennya. Jika dia lelaki, dia akan menjadi imam yang baik bagi keluarganya. Dia akan memimpin keluarganya dengan memberi teladan yang mulia. Sementara jika dia perempuan, dia akan memjadi ibu rumah tangga yang baik, patuh, dan membimbing keluarganya menuju cinta pada Allah.

Bagaimana cara mendapatkan kekasih yang saleh? Hanya ada satu cara yaitu mensalehkan diri. Tak perduli andai dosamu memenuhi langit dan bumi, sungguh ampunan Tuhan tiada batas. Bertobatlah dengan sungguh-sungguh lalu senantiasa berdoalah agar kau dipertemukan Tuhan dengan kekasih yang mulia. Sekelam apapun masa lalumu, sesuram apa pun akhlakmu dahulu, seburuk apapun sikapmu di masa silam, tetaplah memiliki harapan tinggi pada kekasih yang hendak jadi pendampingmu nanti. Jangan rendahkan targetmu. Karena ampunan Tuhan tiada batas. Bila dipikirkan memang tak mudah mensalehkan diri tapi bila dikerjakan dengan hati yang tulus, ikhlas dan ridha karena Allah insya Allah semua akan ada jalannya. Ingatlah bahwa janji Allah selalu benar dan rencana Allah adalah rencana yang terbaik. “Ketika kita mengharap dipertemukan dengan jodoh yang mulia, berusahalah mulai sekarang untuk memuliakan diri. Karena inilah janji Allah: orang baik akan dipertemukan dengan orang baik. Muhammad-kan dirimu, agar Allah meng-Khadijahkan jodohmu. Fathimahkan dirimu, agar Allah meng-Alikan kekasihmu

Jangan pernah memaksa Tuhanmu untuk menjodohkan kamu dengan yang menjadi pilihan hatimu tapi berdoalah “Ya Allah jika dia adalah kekasih terbaik yang Engkau pilihkan untuk hamba yang menurutMu baik bagi agamaku, bagi duniaku, bagi akhiratku serta Engkau ridhai menjadi miliku. Maka persatukanlah kami dalam ikatan yang suci yaitu pernikahan. Jagalah selalu hati kami dan pandangan kami hingga saat itu tiba. Jika dia bukan yang terbaik bantulah aku mengikhlaskan hal-hal yang sudah menjadi kententuanMu”

Terkadang Allah memang tak mengirim jodoh yang kita harapkan. Kadang kekasih yang kita idamkan begini, tapi yang malah kita dapat kekasih yang begitu. Tapi yakinlah, bahwa Allah pasti akan mengirim jodoh yang kita butuhkan. Jadi bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan hanya memuaskan ego, sementara kebutuhan lebih cenderung memenuhi apa yang dibutuhkan oleh hidup kita. Keinginan hanya membuat kita puas dan bahagia sejenak. Sementara tergapainya kebutuhan, lebih menjanjikan kebahagiaan kita di masa depan. Kita tau apa yang kita inginkan, tapi Allah lebih tahu apa yang kita butuh.

Jodoh itu bagaikan sepasang sepatu. Walau tak sama persis namun serasi. Saat berjalan tak pernah persis berdampingan tapi tujuannya sama. Walau tak pernah bisa ganti posisi namun saling melengkapi. Selalu sederajad tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Bila yang satu hilang maka yang lain tak punya arti.


Sumber: Ahmad Rifa’i Rif’an buku “Ya Allah, siapa jodohku?”

Template by:

Free Blog Templates