Ringkasan dari novel “Ya
Allah, siapa jodohku?” karya Ahmad Rifa’i Rif’an.
Untuk saat ini masalah
pasangan hidup adalah termasuk salah satu masalah yang banyak dibahas oleh anak
muda. Banyak muda-mudi yang sedang asik dimabuk cinta berharap pasangan dia
hari ini kelak akan menjadi pendamping dia hingga kakek nenek. Tapi tak banyak
pula diantara mereka yang apabila sedang menghadapi suatu masalah segera
memutuskan untuk berakhir. Lantas kemana harapan yang sudah mereka
gembar-gemborkan itu? Inilah sedikit gambaran mengenai percintaan anak muda di
jaman sekarang. Terlalu terbuai oleh rasa cinta sebatas manusia dengan manusia
tapi bukan antara Allah – manusia – Allah – manusia. Mereka tak menggantungkan
harapan mereka kepada Allah melainkan pada rasa jatuh cinta yang bersifat
sementara. Tak heran dijaman sekarang banyak muda mudi yang hatinya cepat
tersakiti karna pada dasarnya mereka yang membiarkan orang lain menyakitinya.
Lantas bagaimana dengan
mereka yang sudah berumur namun belum menemukan jodohnya? Mungkin saja kita
sebagai manusia kurang berusaha. Memang benar rezeki, maut dan jodoh adalah hal
yang sudah digariskan oleh Allah dan sudah menjadi takdirnya tapi bukan berarti
kita sebagai manusia hanya berdiam diri tanpa berusaha. Mana ada yang namanya
hujan duit? Mana ada datangnya jodoh kalau hanya berdiam diri di kamar dan
tidak bergaul? Jemputlah jodohmu dengan usaha dan doa.
Kalau sudah usaha dan
doa tapi ngga dapet juga gimana? Bertaubatlah kepada Allah mungkin saja ada
kesalahan kita yang menghambat hal itu. Ingat cobaan di dunia ini ada tiga
tingkatan yang pertama cobaan karna ujian dari Allah ingin meninggikan derajat
kita, yang kedua teguran dari Allah karna kita sudah terlalu jauh
meninggalkannya dan ketiga azab Allah karna kita melalaikan ujian dan teguran
yang telah dia berikan. Maka dari itu perbanyaklah memohon ampunan dan
segerakanlah bertobat.
Kenapa Allah ngasihnya
bukan saat ini? Mungkin Allah sedang rindu denganmu, Allah sedang ingin kamu
mendekat kepadaNya, memohon kepadaNya. Kita saja kalau sudah lama tak berjumpa
dengan orang yang kita sayang merasakan rindu kan? Nah, Allah juga sayang sama
kita, Dia rindu dengan airmata tulus kita, Dia rindu dengan rintihan kita. “Selalu percayalah bahwa seberapa pun besar
rintangan yang hadir, sejauh apapun jarak yang ada, sehebat apa pun ujian yang
datang, kalau memang jodoh, pasti akan ketemu juga. Jangan terlalu risau Allah
lebih tahu kekasih seperti apa yang terbaik dan paling sesuai dengan
kepribadianmu”
Gimana sih caranya agar
kita tau bahwa dia adalah jodoh kita? Jujur, saya sendiri masih selalu mencari
tau tentang perihal ini. Ahmad Rifa’i Rif’an mengatakan bahwa jodoh adalah
seseorang yang membuatmu jatuh cinta tanpa satu alasan apapun. Yang kamu tahu
adalah hadirnya kebahagiaanmu dan hadirmu kebahagiannya. Hadirnya telah membuatmu
dekat dengan Tuhanmu. Sudahkah kamu mengetahui siapa orang itu? Ingat yang
sulit itu bukan menemukan tapi sulit mengetahui.
Lalu bagaimana cara
memilih jodoh yang baik? Wasiat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bagi orang yang hendak memilih kekasih untuk dinikahi
adalah mempriotitaskan menikahi seseorang yang memahami agama. Bukan paras,
bukan harta, bukan nasab, meskipun ketiga hal tersebut juga diperbolehkan untuk
jadi pertimbangan, tetapi yang utama adalah akhlak dan agama seseorang.
Sebagaimana disebut dalam hadist Abu Hurairah ra., Nabi saw., bersabda:
“Wanita umumnya dinikahi karena empat hal; hartanya, nasabnya,
kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, kalian akan
beruntung” (HR. Bukhari & Muslim).
Al- Khawarizmi penemu
angka nol pernah bertutur kalimat yang indah, “Kalau wanita berakhlak baik dan
berpikir positif maka ia adalah angka 1. Kalau ia juga cantik maka imbuhkan 0
jadi 10. Kalau ia juga punya harta, imbuhkan lagi 0, jadi 100. Kalau ia cerdas
imbuhkan lagi 0 jadi 1000. Jika seorang wanita memiliki semuanya tapi tidak
memiliki yang pertama maka ia hanya ‘000’. Tak bernilai sama sekali”. Kawan, jangan hanya
mementingkan egomu. Anakmu kelak lebih berhak mendapat pendidikan dari seorang
ibu yang terbaik bukan yang tercantik. Anakmu lebih berhak mendapat pengajaran
dari ayah yang indah akhlaknya bukan yang sekedar berlimpah hartanya. Kekasih
terbaikmu adalah ornag yang membuatmu makin bersemangat mendekat padaNya dan
membuatmu makin takut kepadaNya.
Mengapa harus yang
saleh? Karena kekasih yang saleh saat cinta ia akan memuliakanmu, saat marah ia
tak akan menghinakanmu. Kekasih yang saleh akan memberi yang terbaik bagi
kekasihnya. Dia mencintai karena Allah. Dia pun tak mudah mempermainkan orang
yang sudah dicintainya karena Allah. Dia tidak akan melupakan tanggung jawabnya
sebagai suami atau istri yang baik bagi pasangan hidupnya. Dia akan menjaga
komitmennya. Jika dia lelaki, dia akan menjadi imam yang baik bagi keluarganya.
Dia akan memimpin keluarganya dengan memberi teladan yang mulia. Sementara jika
dia perempuan, dia akan memjadi ibu rumah tangga yang baik, patuh, dan
membimbing keluarganya menuju cinta pada Allah.
Bagaimana cara
mendapatkan kekasih yang saleh? Hanya ada satu cara yaitu mensalehkan diri. Tak
perduli andai dosamu memenuhi langit dan bumi, sungguh ampunan Tuhan tiada
batas. Bertobatlah dengan sungguh-sungguh lalu senantiasa berdoalah agar kau
dipertemukan Tuhan dengan kekasih yang mulia. Sekelam apapun masa lalumu,
sesuram apa pun akhlakmu dahulu, seburuk apapun sikapmu di masa silam, tetaplah
memiliki harapan tinggi pada kekasih yang hendak jadi pendampingmu nanti.
Jangan rendahkan targetmu. Karena ampunan Tuhan tiada batas. Bila dipikirkan
memang tak mudah mensalehkan diri tapi bila dikerjakan dengan hati yang tulus,
ikhlas dan ridha karena Allah insya Allah semua akan ada jalannya. Ingatlah
bahwa janji Allah selalu benar dan rencana Allah adalah rencana yang terbaik. “Ketika kita mengharap dipertemukan dengan
jodoh yang mulia, berusahalah mulai sekarang untuk memuliakan diri. Karena
inilah janji Allah: orang baik akan
dipertemukan dengan orang baik. Muhammad-kan
dirimu, agar Allah meng-Khadijahkan jodohmu. Fathimahkan dirimu, agar Allah
meng-Alikan kekasihmu”
Jangan pernah memaksa
Tuhanmu untuk menjodohkan kamu dengan yang menjadi pilihan hatimu tapi
berdoalah “Ya Allah jika dia adalah kekasih terbaik yang Engkau pilihkan untuk
hamba yang menurutMu baik bagi agamaku, bagi duniaku, bagi akhiratku serta
Engkau ridhai menjadi miliku. Maka persatukanlah kami dalam ikatan yang suci
yaitu pernikahan. Jagalah selalu hati
kami dan pandangan kami hingga saat itu tiba. Jika dia bukan yang terbaik
bantulah aku mengikhlaskan hal-hal yang sudah menjadi kententuanMu”
Terkadang Allah memang tak mengirim jodoh yang kita harapkan. Kadang kekasih yang kita idamkan begini, tapi yang malah kita dapat kekasih yang begitu. Tapi yakinlah, bahwa Allah pasti akan mengirim jodoh yang kita butuhkan. Jadi bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan hanya memuaskan ego, sementara kebutuhan lebih cenderung memenuhi apa yang dibutuhkan oleh hidup kita. Keinginan hanya membuat kita puas dan bahagia sejenak. Sementara tergapainya kebutuhan, lebih menjanjikan kebahagiaan kita di masa depan. Kita tau apa yang kita inginkan, tapi Allah lebih tahu apa yang kita butuh.
Jodoh itu bagaikan sepasang sepatu. Walau tak sama persis namun serasi. Saat berjalan tak pernah persis berdampingan tapi tujuannya sama. Walau tak pernah bisa ganti posisi namun saling melengkapi. Selalu sederajad tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Bila yang satu hilang maka yang lain tak punya arti.
Terkadang Allah memang tak mengirim jodoh yang kita harapkan. Kadang kekasih yang kita idamkan begini, tapi yang malah kita dapat kekasih yang begitu. Tapi yakinlah, bahwa Allah pasti akan mengirim jodoh yang kita butuhkan. Jadi bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan hanya memuaskan ego, sementara kebutuhan lebih cenderung memenuhi apa yang dibutuhkan oleh hidup kita. Keinginan hanya membuat kita puas dan bahagia sejenak. Sementara tergapainya kebutuhan, lebih menjanjikan kebahagiaan kita di masa depan. Kita tau apa yang kita inginkan, tapi Allah lebih tahu apa yang kita butuh.
Jodoh itu bagaikan sepasang sepatu. Walau tak sama persis namun serasi. Saat berjalan tak pernah persis berdampingan tapi tujuannya sama. Walau tak pernah bisa ganti posisi namun saling melengkapi. Selalu sederajad tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Bila yang satu hilang maka yang lain tak punya arti.
Sumber:
Ahmad
Rifa’i Rif’an buku “Ya Allah, siapa jodohku?”





0 komentar:
Posting Komentar