Ayah? Aku selalu bingung jika diminta
mendiskripsikan tentang ayah. Bagaimana tidak semenjak aku lahir aku belum
pernah menatap wajahnya. Sejak aku kecil, hanya ada kakek dan nenek yang
merawat ku. Ibuku? Aku dekat dengan dia ketika aku beranjak dewasa.
Ayah? Ntah hidungnya mancung atau tidak, matanya
sipit atau belo, pipinya tirus atau tembem, bentuk bibirnya seperti apa juga
aku tak tahu. Kulitnya berwarna putih, coklat atau hitam aku tak pernah lihat,
perwatakan wajahnya tegas atau lembut aku juga tak pernah merasakannya.
Ayah? Sejak kecil yang sosoknya sudah tergantikan
oleh kakekku. Di saat teman-temanku diantar jemput oleh ayahnya, ketika mereka
bercerita tentang ayah mereka, ketika mereka membanggakan ayahnya masing-masing
hanya ada satu pertanyaan di otakku."ayah, seperti apa wajah ayah?"
Ayah? Yang sempat ada kenangan satu-satunya berupa
foto tapi hanyut terbawa banjir.
Ayah? Yang katanya bandel miripku. Mungkin yang aku
tau sifat ayah ada di dalam diriku hanya itu. Tapi aku yakin masih ada sifat
ayah yang lain ada di dalam darah dagingnya.
Ayah? Yang hanya aku tahu ceritanya dari ibuku bahwa
dia sesosok pria yang hebat pekerja keras, dan bermental baja. Meski aku hanya
bisa mendoakannya sekarang tapi aku masih berharap dapat berjumpa dengan dia
meski sekali. Agar aku bisa mendiskripsikan seperti apa ayahku, seperti apa
sosok hebat yang dibilang ibuku.
Ayah? Yang meski aku tak pernah melihatnya dan
merasakan kasih sayangnya namun tak sekalipun mengurangi rasa cintaku dan
hormatku kepadanya.
Ayah? Aku harap suatu saat bisa berjumpa denganmu
meski hanya sebentar.
Ayah? Yang kadang aku berharap dapat memutar waktu
agar aku bisa merasakan kasih sayangmu meski sesaat.
Ayah? Aku mencintaimu. Tak perduli seperti apa
sosokmu. Engkau tetap pahlawan untukku, untuk ibu, dan untuk keluarga kita.
Ayah? Berbahagialah walau kita tak pernah berjumpa.
Doakan anakmu ini agar bisa membahagiakan bidadari surga kita; ibu. Bantulah
anakmu ini dalam mewujudkan semua harapan malaikat kita; ibu.
Ayah? Hampir semua teman-temanku memiliki sosoknya
namun hanya aku yang tidak. Sedih memang, tapi aku tetap bersyukur karna aku
memiliki kakek, nenek dan ibu yang tak kalah hebat dengan ayah.
Ayah? Aku harap suatu saat nanti aku bisa menjadi
sesosok ayah yang hebat, pekerja keras dan bermental baja pula untuk anakku dan
istriku.
Ayah? Yang sebutan seperti itu sebentar lagi akan
aku miliki ketika aku meminang seorang perempuan dan mempunyai amanah Allah
darinya.
Untuk semua teman-temanku yang masih memiliki sosok
seorang ayah, syukuri, sayangi dan berterimakasihlah kepadanya. Sebab, di luar
sana ada anak sepertiku yang tak sempat merasakan bahkan berjumpa dengan sosok
yang disebut ayah. Ada sosok anak yang hanya bisa merasakan waktu kebersamaan
dengan ayahnya sebentar saja. Tak sempat berterimakasih kepadanya. Tak sempat
membuatnya bahagia, tak sempat mengucapakan maaf untuk kesalahan yang pernah
anaknya perbuat.
Dan untuk seluruh ayah di dunia, tetaplah menjadi
sosok yang pantas dibanggakan oleh anak-anakmu. Sebab, ayahlah yang menjadi
panutan seorang anak kelak.
-28 Januari 2016-






