Untukmu,
Yang
Bimbang Hatinya...
Tidak,
Seharusnya Aku Tidak Mencintainya... Salahkah aku mencintai dirinya?
Mungkin ini adalah hal paling umum yang dirasakan setiap manusia ketika jatuh
cinta. Lalu apakah benar kamu memang seharusnya tidak mencintainya? Tidak.
Menurutku itu salah. Sebab cintamu adalah bukti ketulusan hatimu. Bagaimana
sebuah ketulusan bisa hadir bila kamu rencanakan sebelumnya? Pantaskah ia
disebut dengan ketulusan? Pikirkan kembali mengapa kamu harus memiliki
pemikiran seperti itu. Apakah karena kamu merasa kamu tak pantas untuknya? Lalu
seseorang yang seperti apa yang pantas untukmu? Tidak ada seseorang pun yang
pantas untukmu bila kamu sendiri tak pernah merasa pantas untuk orang lain.
Kenapa? Karena kamu sendiri saja tak menghargai diri sendiri bagaimana orang
lain bisa menghargaimu. Jika kamu memang
merasa tak pantas maka perbaiki dirilah untuk memantaskannya bukan menyalahkan
ketulusan hatimu.
Tidak,
Seharusnya Aku Tidak Mencintainya... seharusnya aku mencintai dia bukan dia. Begitukah
yang ada di pikiran mu kawan? Jika iya, bukalah mata kamu dan bacalah ini
semoga membantu membuka pikiranmu. Siapapun yang hatimu cintai itu bukan sebuah
kesalahan. Justru menjadi sebuah kesalahan karena kamu sendiri yang
menyalahkannya. Bagaimana cinta bisa salah sedangkan ia tak pernah
direncanakan? Apakah kamu bisa menjamin bila dengan kamu mencintai orang lain
kamu bisa menjadi lebih bahagia? Apakah kamu merasa dengan mencintai dia kamu
hanya merasa sengsara? Sungguh, jika iya lagi hidupmu sungguh menyedihkan. Ini
membuktikan bahwa pikiranmu terlalu pendek kawan. Bagaiman kamu tau hal yang
belum pernah kamu coba? Apakah itu masuk akal? Seberapa bahagianya kamu,
seberat apapun kesengsaraan kamu itu lahir dari bagaimana caramu berpikir. Jika
kamu berpikir dengan mencintai dia hanya membuatmu sengsara dan hanya dengan
mencintai orang lain bisa membuatmu bahagia itu adalah hal yang tak masuk
diakal. Lalu setelah kamu berpikir seperti itu apakah lantas kamu bisa langsung
mencintai orang lain? Jika iya, maka aku patut mempertanyakan ‘seberapa besar
rasa ketulusanmu?’ karena jika kamu
benar-benar mencintai seseorang dengan ketulusan, hatimu tak akan pernah
sanggup berpaling sampai kamu dapat mencintai orang yang baru dengan ketulusan
juga. Bahagia atau sengsaranya dirimu itu tercipta dari bagaimana cara kamu
menjalaninnya. Kebahagiaanmu bukan karena secantik, setampan, sekaya
pasanganmu tapi kebahagiaanmu lahir karena bagaimana cara kalian berdua
menjalaninya. Dan kesengsaraanmu bukan karena sejelek, semiskin pasanganmu.
Jadi, syukuri saja kepada siapa kamu jatuh cinta karena sampai kapapun cinta
tak akan pernah salah.
Tidak,
Seharusnya Aku Tidak Mencintainya... Untuk apa aku terus terus mencintainya
bila ia tak pernah menjadi milikku? Maka aku kan membalas
pertanyaanmu ‘untuk apa kamu menuntut sebuah balasan bila dengan mencintai ia
saja kamu sudah merasa bahagia?’ Ya, ketulusanmu akan terlihat ketika kamu tak
bisa memilikinya, tak bersamanya namun kamu tetap mencintainya serta
mendoakannya. Karena bagi seseorang yang tulus ‘balasan’ bukanlah hal yang ia
kejar. Karena hatinya tau yang mencintai terlebih dahulu adalah ia, karena
hatinya sadar selalu mendoakannya bukanlah hal yang diminta. Dan karena hatinya
mengerti bahwa tak pernah ada seseorang pun yang memaksa ia untuk mencintainya.
Jika ketulusan yang berbicara atas rasa cinta maka tak akan pernah ada pikiran
tentang “Tidak, Seharusnya Aku Tidak
Mencintainya...” sebab apapun yang
terjadi jika ketulusan itu masih ada kamu akan tetap selalu mencintainya...
bahkan ketika Tuhan sangat menyulitkan jalanmu namun kamu tak akan pernah
menyerah sampai akhirnya kamu mendapat jawaban dari Tuhan “inilah akhirnya,
inilah yang Aku takdirkan untukmu, dan inilah yang terbaik untukmu dari-Ku”.
Maka dari itu kamu tak akan pernah menyalahkan siapapun ketika kamu jatuh
cinta.
Sudah berapa seringkah
kamu menyalahkan diri sendiri atas apa yang memang Tuhan takdirkan mu? Jika
sering, maka itu artinya kamu belum dewasa dalam hal menerima takdir. Hatimu
selalu berontak dan merasa Tuhan tak pernah adil padahal begitulah cara dia mendewasakan
setiap umatNya. Mulai sekarang periksalah hatimu terlebih dahulu sebelum kamu
menyalahkan sesuatu. Apakah hal itu memang pantas disalahkan atau itu hanya
alasanmu untuk mengingkari apa yang hatimu rasakan. Di lain sisi kamu
menyalahkan diri sendiri namun dilain sisi pula itulah kebenaran atas hatimu.
Banyak yang bilang “jika mencintaimu adalah kesalahan maka biarlah kesalahan
ini aku nikmati sendiri” apakah itu masuk akal? Adakah kesalahan yang bisa
dinikmati? Yang kamu nikmati itu bukan kesalahan tapi justru kebenaran atas apa
yang kamu rasa.
Kawan, aku hanya ingin
bertanya jika kamu ingin menyalahkan perasaan itu lantas siapa yang kamu
salahkan? Dirimu atau hatimu? Tidakkah kamu sadar bahwa kedua itu adalah
milikNya? Jika kamu menyalahkan keduanya berarti itu sama saja kamu menyalahkan
Tuhan. Padahal kamu hanya seorang hambaNya yang tidak mengetahui apa-apa namun
Dia mengetahui segalanya. Tidakkah kamu sadar bahwa kesalahan dan kebenaran itu
hakikinya hanya Dialah yang tahu? Lalu mengapa kamu menghabiskan waktu untuk
menyalahkan hal yang mungkin terbaik untukmu?
Dari
yang pernah merasakannya...





0 komentar:
Posting Komentar